an eye for an eye

jadi saya habis keluar lift, menuju pintu ke lorong sebelah kanan lift. dari kiri saya ada orang *kayaknya anak phd elektro entah di institut yang mana, karena mukanya familiar*. sebagaimana kebiasaan orang sini yang suka bukain pintu dan nahanin pintunya buat orang di belakang, saya cepet2 menuju pintu, ngebuka, dan nahan pintunya karena kayaknya sih saya yang lebih deket ke pintu.

kemudian si orang belakang bilang, “That’s very gentleman of you.” dan saya cengo. ceuk saya, “Ha? Gentleman? Hahaha.” terus dia bilang, “Or should I say gentlewoman? Hahaha”. Lawak aja, kayaknya ini pertama kalinya ada yang bilang saya gentleman. biasanya paling disenyumin terus diterimakasihin :)) saya bilang aja, “Okay, hahaha, thank you.”

kemudian hari berjalan secara biasa biasa saja.

nah, sekian jam kemudian saya lewat koridor itu lagi dari arah yang berlawanan, dan mau buka pintu. sebelum saya nyampe pintunya, ada orang lari dari arah di balik pintu, terus bukain pintunya. saya bingung kan, kirain orang itu mau lewat. tapi ternyata engga. saya bilang, “thanks” sambil lihat orangnya. eh taunya itu orang yang tadi. terus saya ketawa kan. niat abiiis sengaja lari buat bukain pintu doang. dianya juga ketawa,

“an eye for an eye,”

katanya.

hahaha random abis hari ini. insya Allah hari terakhir ngampus di TU Darmstadt ahuuuuuu.

Iklan

percakapan para mahasiswa dikejar deadline tesis

*di lab jam-jam pulang.*

A *cewe* : sabrina, can you help me again? my front pages are missing now.

ceritanya lagi ngetik di latex. tadi siang reference-nya yang ga muncul. sampe sekarang sih, entah kenapa. padahal udah include package, ngopi2 filenya, masukin perintahnya. hidup emang ga bisa diprediksi.

Me: *meriksa filenya* i think you accidentally add a percent sign in front of the close bracket and make it a comment. whenever you have an open bracket you always need a close bracket.

A: thanks. it works now. but my references are still missing.

Me: humm sorry, i have no idea how to solve it.

A: I HATE LATEX! my friend in other university can just write their thesis in Word. why do we have to use this! i think with this 6 months are not enough for a master thesis.

Me: exactly! we really need one year for this. 6 months for getting used to latex and 6 months for the real thesis. ha! and inkscape! i hate inkscape! i think we need 2 months for that.

B *cowo**nimbrung*: and another month for software blablablah.

A: yes, and the fabrication always go wrong! we spend lots of time for that and when it’s finished we realize that the measurement result is really bad and we don’t have time to do another fabrication! why do we have to do this?

B: just follow my advice, A. you know it’s the best for you.

Me: what advice?

A: he told me to get married *ketawa*.

Me: hahaha, i remember what fahad said.

A: what?

B: which fahad? fahad blablabla?

Me: yes. he told us that pretty girls dont have this problem because they dont have to study so much. he said that if you’re white and pretty, you wont have to study too much because you will easily find a husband but if you’re ugly then you will have to study more.

A: SO NOW YOU’RE CALLING ME UGLY??

:))

B: don’t worry, you can still marry tom cruise. what is your height?

Me: why tom cruise?

B: because she can’t have brad pitt. he’s married.

Me: …

B: what is your height, A?

A: 172.

B: no way. i think you’re taller than me. i’m more than 172.

Me: stand up and i’ll see who’s taller.

A & B berdiri.

Me: you’re about the same.

B: i think i’m 173. anyway.. *googling*. OH NO! you can’t have tom cruise! he’s shorter than you.

A: how tall is he?

B: 170.

A: nah, it’s okay. 2 cm is okay for me. i can marry him.

Me: but his front tooth is weird. google it!

B: *googling* o my god.

A: o my god.

Me: we usually have a gap in the center of our teeth.

A: yes. his gap is shifted. maybe there was a fabrication error!

*ketawa*

B: good that you know that. you can call tom cruise and tell him that you’re master in filter and know how to do good fabrication. say that you can solve his problem.

A: yes, i’ll call him! hmm, but i don’t want to be a second woman. i have to be the first.

Me: but i think he’s divorced.

A: yes, but he has a girlfriend.

Me: it’s just a girlfriend. you still have a chance.

A: yeah, maybe hahaha.

dan lanjut sampe akhirnya sadar percuma diem di lab karena ga bakal berprogress di jam bego begini. :))

cmuggha lancar semua tesisnyah.

ei phone dan *rasa* inferioritas bangsa indonesia

saya baru sadar kalo orang indonesia tuh menganggap dirinya inferior banget dibanding orang-orang negara lain. ya gak semuanya tapi menurut saya sih kebanyakan begitu.

misalnya SELALU nganggep bule itu lebih pinter dari kita. kenapa sih? jago bahasa asing? yaiyalaah :)) cakep? tinggi? *ga nyambung*. tapi saya rada paham sih kenapa. soalnya sekian ratus taun kita dijajah perusahaan bule. itu tuh VOC. dan selama itu pula si kumpeni itu berkuasa terhadap kita. itu loooh si bule bule tinggi dan idung mancung. pas itu ya pastilah mereka lebih pinter. lah kalo ga ningrat pan kita ga boleh sekolah tinggi. bisa masuk sekolah rakyat aja udah sukur. udah gitu mereka bisa merintah kita seenaknya. bajunya cakep2 pulak. jadinya sampe sekarang deh ngerasa inferior ama bule.

kalik.

tapiii gini bray, bule tuh ada yang pinter dan ada juga yang enggak. ya sama aja kayak orang indonesia ada yang macem pak habibie ada yang bukan pak habibie wkwk. mungkiiiin persentase orang pinter mereka lebih banyak dari kita karena gizi, sistem pendidikan, lalala, tapi ga segitunya juga. yang ga pinter juga banyak. misalnya nih, di jerman, yang kesannya superior, ada aja sih orang yang nulis iPhone jadi ei phone. :)) jadi “ei” itu dibacanya “ai” di bahasa jerman. dan artinya TELOR. gyahahahah. jadinya HAPE TELOR! saya liat ini di amazon sini (pas cari “ei” phone casing) sama pas ada festival. ya gitu deh :))

eh tapi saya juga ga setuju sama statement, “orang indonesia itu pinter-pinter. professor2 di luar negeri pada seneng banget sama orang indonesia.”

…kemudian semua orang indonesia merasa dirinya patut berpuas diri karena dianggap pintar.

…padahal yang dianggap pintar ya orang indonesia muridnya si professor itu. bukan orang indonesia random yang kenal sama professor itu juga enggak :)) ya itu tadi. orang indonesia juga ada yang pinter ada yang enggak. gak semua orang diciptakan jadi habibie.

selanjutnya, selain inferioritas ke bule-bule. orang muslim indonesia juga suka ngerasa inferior dalam bidang agama ke orang-orang timur tengah. bahkan ke orang turki semata-mata karena mukanya “rada arab” :)) padahal dari semua orang turki kenalan saya bahkan ga nyampe setengahnya yang puasa pas ramadhan zzz. gimana sih, mentang-mentang islam diturunin di daerah situ gituhh? ya kalo orang indonesia random mungkin kalah pengetahuan agamanya sama orang timur tengah yang belajar agama di al-azhar, misalnya. tapi sama aja, orang timur tengah random demen clubbing kalah dong pengetahuan agamanya sama santri indonesia yang dari lulusan gontor. gituh. ono ono ae.

tenang aja, ga semata-mata karena kita orang melayu jadi kita inferior dari semua ras di dunia. mau kita orang indonesia juga kalo mau belajar atau nyantri bisa lebih pinter dari orang bule atau timur tengah.

gituh.

lucu aja kadang-kadang. dan kesel juga grrr.

sudah lpj

akhirnya, setelah hampir dua taun menjabat jadi pengurus ppi frada, akhirnya sabtu kemarin resmi turun. udah lpj gitu. lpj-nya santai sih, ga ada bantai2an kayak di suatu organisasi di itb huahaha.

saya ga enak hati ga bantu banyak buat acara lpj sekaligus pemilihan ketua baru kemarin, berhubung saya habis balik dari indo karena bapak mertua meninggal (ya Allah saya sedih banget. those were some of the saddest days of my life. rasanya nyesek karena meninggalnya tiba-tiba, dan saya bener-bener belum berbakti apa-apa sebagai menantunya dan sekarang cuma bisa doain aja. mohon doa untuk almarhum juga yaa). eniho, saya terharu banget sama temen-temen ppi di sini yang ngerti dan jadi gantiin tugas saya pas bikin2 acara frada abend ini. mana sehari sebelumnya saya ada tes jadi ga banyak bantu juga. dan saya terharu juga sama geng paguyuban darmstadt yang udah mau dicurhatin T.T *semoga dibales Allah*.

kembali ke taufiq. kemarin, karena gak enak hati gak banyak bantu, akhirnya walaupun saya orang yang pendiam dan pemalu, akhirnya saya mau aja jadi mc di acara tersebut. iya, walaupun asalnya ga mau karena takut acara krik krik karena takut ga bisa heboh bawain acara, tapi akhirnya jadi juga haha. soalnya acara kemaren kan nonformal dan seru-seruan. kudu heboh-heboh gitu kan. lagian pesertanya kebanyakan anak-anak yang baru lulus sma. kyaaaa aku tuaaaa :))) terus pengalaman mc saya sebelumnya kayaknya cuma dua kali deh. dan dua-duanya acara formal. pertama pas ada acara i3m, entah apa itu pokoknya seinget saya ada dosen, terus yang kedua adalah jadi mc international conference-nya telkom ITB, TSSA, pas di bali. ini gara-gara kata pak dosen, “Sabrina, paper kamu ga ada nama dosen itb-nya kan, jadi harus bayar uang conference. tapi kalo kamu jadi MC ga usah bayar.” plus dikasih duit lagi kalo ga salah hahaha. sebagai mahasiswa, peluang begituan sih ga dipikir dua kali langsung diiyain gyahahahha. alhamdulillah lah lancar jaya, walaupun sebelum ngomong saya kudu latian dulu karena grogi :)). kalo acara yang kemaren, paling panik pas udah ada yang pegang-pegang hape. HIKS AKUH MEMBOSANKAN YAAAH? untung semua bisa teratasi dengaaaaaaaaaaaan GAME, saudarah saudaraaah. kasih aja pertanyaan macem, “di stasiun telepisi mana sinetron ganteng-ganteng serigala ditayangkan,” atau game eat bulaga, atau game memperagakan kata-kata, niscaya mereka yang main game heboh sendiri. alhamdulillah :))

kemudian,

awal mula saya aktif di ppi frada sungguhlah random. waktu itu sekitar bulan april tahun 2013, saat akan diadakan pemilihan ketua ppi. saya sedang lugu-lugunya dan tidak kenal siapa-siapa kecuali geng paguyuban darmstadt ceria, yang anggotanya anak-anak s2 dan s3 sahaja, yang terbentuk atas minat masak-masak, makan-makan, dan jalan-jalan. sebagian besar dari geng ini kuliah di jermannya cuma satu tahun, karena program double degree dengan itb. mereka akan pulang satu semester dari saat itu. saya bener-bener ga kenal anak-anak ppi, yang isinya kebanyakan anak-anak s1, atau yang sedang studkol. dateng acara ppi aja baru sekali, yaitu acara seminarnya pak ilham habibie. fyi, berbeda dengan di jepang, mahasiswa indonesia di sini kebanyakan anak s1. yang s2/s3 mungkin hanya 10-20% saja.

nah, malam itu, saya lagi sibuk bikin slide presentasi rencana jalan-jalan ke barcelona, untuk dipresentasikan besok paginya ke tante-tante dan om-om paguyuban. di paguyuban, yang “senior” biasanya bertanggung jawab dalam urusan masak memasak, sementara yang “junior” biasanya jadi EO buat jalan-jalan. nah, karena lelah membuat slide, saya tidur cepat, ga buka-buka facebook. paginya, pas buka hape, notif facebook banyak banget, isinya dari grup ppi. hati ini jadi penuh curiga. APAAN NIH! maka saya buka notifnya daaaaaaaaaaan jengjengjeeeng, om-om dan tante-tante pada daftarin saya jadi ketua ppi frada. hiksssssssss. kalian tidak tahuuuu syoknya saya saat ituuuuu T.T entah gimana nulisnya di sini supaya pada paham syoknya kayak gimana :))))

belum lagi ditambah poster yang mereka upload T.T

“SABRINA, SOSOK KEIBUAN. AKHIR TAUN INI MAU MENIKAH!”

T.T

saya tak mampu berkata-kata.

paginya saya ketemu anak-anak paguyuban untuk presentasi jalan-jalan. daaaaaaaaaaaan, potonya diaplot beny dan dicaption, “CALON KETUA PPI SEDANG PRESENTASI VISI DAN MISI”. T.T

terus si om sidik bilang, “ini usaha kami biar nanti kamu ada temen na, kalo kami2 ini udah pulang.  biar dapet temen baru gitu di sana.” mengharukan sih, tapi… “salah satu cara cepet kenalan sama orang itu dengan cara dikenal dulu. kalo kamu maju kan nanti dikenal, jadi langsung banyak temen.” T.T

terus om sidik kenal sama ketua ppi yang lagi menjabat. terus saya diajak skype. hahahahahahahahahah. ini udah sampe tahap pasrah. terus saya sampah juga sih, mikir, yaudah sih, maju aja ya. paling orang-orang bingung, ni orang siapaa ga ada yang kenal terus tiba-tiba maju jadi ketua ppi :))). mana mungkin kepilih juga sih. yaudah ikut aja hearing, buat latian sidang tesis entar sama latian kalo dibantai *zamfah*. etapi saya juga punya niatan mulia *haziks*. waktu itu ppi-nya kan baru setaun dua tahun aktif lagi. jadi program-programnya belum banyak dan baru memfasilitasi kegiatan non akademis doang, misalnya malam kesenian, sportfest, etc. nah, padahal kan denger-denger banyak student yang ga lulus gitu jadi pada harus balik ke indo.. kan sayang. harusnya ppi bisa memfasilitasi tutorial atau seminar-seminar akademis gitu. jadi, ya mayan sih hearing kan bisa buat penyampaian ide. kalo pas hearing bisa meyakinkan orang kalo hal-hal itu penting, siapapun ketuanya nanti, idenya bakal dipake kan hehehhhh.

tapi kemudian beneran dinyinyirin pas hearing. muhuahaha. kata temen pengajian yg dateng, “sabrina, kalau saya jadi kamu saya udah nangis digituin. subhanalloh sekali”. sekarang saya ga begitu inget sih, tapi emang waktu itu ada yang kejam banget, salah satunya nanya, “gimana kalau ppi hancur dengan kehadiranmu” haha. hiksss. atau “kakak kok berani-beraninya nyalon padahal kita ga ada yang kenal kakak.” HIKSSS. saya, pas diajak gabung jadi pengurus, saya mikir, “duh jangan-jangan anak-anaknya beringas”. tapi pas udah kenal taunya baek-baek. dan sekarang juga udah lupa waktu itu saya diapain aja :)) kemaren pas bikin acara pemilihan ketua, akhirnya dibikin aturan hearing, “kalo nanya harus adil ke semuanya”, gara-gara pas waktu hearing saya itu, pertanyaannya hampir semua ke saya. dan pertanyaannya sungguh kejamnya. dan ternyata temen2 ppi masih pada inget karena syok ada yang nanya begitu :))

waktu itu tapi saya mikirnya latian debat capres sih, jadi ngasal jawab jawab aja mau ditanya apa juga. ya kali kali ntar maju nyalon jadi presiden. tapi takut juga sih kalo kepilih gyahahhaahh. sebenernya saya ga begitu tau juga mau ngapain. terus ya gimana orang ga kenal siapa-siapa masa kerja sendiri :)). terus saya panik dan berdoa. huahaha. untung ga kepilih. ETAPI mayan loh suaranya ga dikit dikit amat hehehh.

abis pemilihan itu ada yang deketin saya, “sabrina, bagus sekali tadi. saya ga ngerti kenapa kamu ga kepilih. sayang banget.” dalem hati saya bilang, kalo kepilih baru sayang banget dan gawat banget hahah. huahaha mau ngapain coba. terus diajak ngobrol sama ppi kota laen buat diskusi program kerja. saya ngikutin aja. kesannya emang saya niat banget maju jadi ketua gitu. pada ga tau cerita di balik layar gimana ikut pemilihan ini haha. dan saya ga berani ngaku sih, ntar takut disangka, ni orang ngasal banget.  padahal iya :)) terus si orang2 paguyuban bilang, “kemaren habis hearing aku ketar-ketir lho. takut kamu kepilih soalnya jawabanmu bagus.” GGGYAAAHAHAHAHAH AKU BISA JADI PRESIDEEEN! iya sih, saya juga ngerasa saya mayan jago jawabnya hahaha.

yah pokoknya gitu deh. itu pengalaman paling gila dalam hidup saya. saya ngetwit loh waktu itu :)) sampe sekarang kalo inget juga masih ga paham. mikir apa waktu itu nekat gitu :))))))

ah ya udah. tapi seneng loh selama di ppi. akhirnya diajak buat jadi kadiv pendidikan dan sempet bikin tutorial-tutorial buat anak-anak studkol dan bikin seminar pendidikan juga. semoga bermanfaat yak. seneng juga sih kemaren calon-calon ketuanya pada banyak program pendidikannya. aku terharuuu. mudah-mudahan ke depannya tingkat kelulusan anak indonesia di jerman, khususnya di darmstadt, frankfurt, dkk, makin tinggi yaa. kemaren agak sedih pas nampilin slide-slide dokumentasi acara, ada foto temen-temen yang akhirnya kudu balik ke indonesia karena ga lulus. sedih aja gitu, kayak baru kemaren barengan di acara x.

ya gitu deh.

udah lama ga nulis, tulisannya jadi berantakan. ya itung itung latian nulis tesis lah. doain ya biar tesisnya lancar dan lulus tepat waktuuu! aamiin!

minat dan genetika

tempo hari saya baca artikel tentang pengaruh genetika dan lingkungan terhadap IQ seseorang. terus jadi kepikiran, kalo minat ada hubungannya gak ya sama genetika? soalnya kemaren habis nonton dorama “N no tame ni”, ceritanya si anak pemilik restoran pengennya jadi chef, walaupun restoran ayahnya udah dijual dan dia harus mulai dari bawah lagi, kerja di restoran orang sebagai waitress. terus juga diceritain sama temen, kalo dia habis nonton dorama yang ceritanya ada anak pelaut, sekolahnya semacam teknik kelautan gitu, jadi kerjanya ya di laut laut juga. belum lagi anak dokter yang biasanya jadi dokter, dan seterusnya. itu semua murni karena lingkungan atau sebenernya ada dna2 dalam tubuh yang membentuk minat? *hazik. *ngasal.

di keluarga saya yang dari ibu juga lucu. saya, adik saya, dan hampir semua sepupu saya kuliahnya kalo ga teknik elektro, teknik mesin, ya kedokteran. enam di UGM, satu di ITB, satu di Undip, satu di McGill. cuma ada satu yang memilih jalur berbeda dengan kuliah di STAN. lucu aja gitu, misalnya pun seneng teknik, pilihannya kan banyak. tapi ini kalo ga elektro ya mesin. bahkan yang yang belum kuliah pun pengennya sama haha.

yaa atau pengaruh keluarganya kuat gitu ya. tapi tetep, lucu aja gitu.

terus saya ngebayangin, nenek moyang saya dulu profesinya apa ya? nelayankah? petanikah? atau atlet? karena mungkin bakat olah raga saya diturunkan dari nenek moyang. terus dulu sekeluarga turun temurun profesinya sama semuakah?

seandainya ada mesin waktu doraemon. atau lorong waktunya pak haji. pengen ngintip euy jaman dulu begimana.

sekian dan wasalam.

*tulisan ini dibuat dalam rangka latian nulis lagi berhubung udah lama gak nulis. yaaa biar pas nulis tesis lancar jaya gituuuh. doain tesis saya dong fara fembacaaa!

work life balance

tadi pagi saya baca artikel  mengenai mengapa orang Jerman bekerja pada waktu yang pendek, namun dengan hasil yang lebih banyak dari posting fb temen saya dan jadi ingat kuliah International and Intelcultural Aspects of Ergonomics yang iseng saya ambil di semester dua, yang super menarik dan nilainya baik tapi ga bakal masuk transkrip. waktu itu setiap orang harus milih topiknya sendiri, dan saya milih topik perbandingan work life balance Indonesia dan Jerman. dan berhubung saya udah lama gak posting sini, saya posting esai yang saya bikin di kelas itu aja ya. ini super copy paste, males translate juga ke bahasa Indonesia. kekekeee, males nulis akhir-akhir ini. mungkin bawaan umur. cmuggha bermanfaat! 😀

********************************************************************

Definition of Work-Life Balance

The separation between work and lifestyle was invented in 1800 (Burke, 1995).The term work–life balance is a concept of prioritizing between work (career and ambition) and lifestyle (healthpleasureleisurefamily and spiritual development/meditation).

Why has it become an issue?

One of the reasons why the Work-Life Balance started becoming an important issue isbecause of advances in technologies. As smartphones, notebook and tablet PC had become affordable, employees can now easily access their work from outside their workplaces. With these technologies, information about work had also become easily accessed. The companies distribute smartphone so that their employees can be contacted and given information even in the middle of the night or during weekend. Thus, their work hour had been extended to not only Monday to Friday from 9 to 5 anymore, but also to anytime they are needed and approachable as they do not have to work within their workplaces anymore.

This new trend—workers got new responsibilities to not only work from the workplace—have surely reduced the employees’ personal time. They will feel the responsibility to answer a phone call from work or to reply an email even though they are in the middle of a gathering with their family and friends. As a result, employees often feel distressed because they do not have life outside work anymore, since they still need to do work anytime they are needed.

At this circumstance, the loss is not only at the employees themselves but also at the company, because stressed workers are more likely to quit their job and they tend to make bad decisions. This is crucial for the company as the company is driven by their employees.

The second thing is globalization. During this era of globalization, every company competes with not only companies from their own country but also from all over the world. In here, qualified personnel are the best investment for a company. For this, it is important to become an attractive company to attract more qualified employees, especially by being a company that has good regulations on work life balance for their employees.

Another issue that leads Work-Life balance to become more crucial is the obligation when the employees are parents. Being parents often forces them to divide their time into work and family. This problem mostly affects female workers as they need time to give birth and because it is the mother role in society, although not in every family, to take care of her children.

Working mothers are perceived as less competent and less worthy of training than childless women (Cuddy & Fiske, 2004). In the same Cuddy et al. (2004) study, men who became fathers were not perceived as any less competent, and in fact, their perceived warmth increased. As a result, work-life balance leads to a gender problem. Because of that perception, women often have to choose between advancing their career and having children.

As having a child more or less leads to a cutback on a woman’s career, more of them decide not to have one. As a result, the birthrate is declining.

Declination of birthrate is a big problem for a country. At one point in the future, a country that has negative population growth will lack of labor force potentials. When the old generation outnumbers the productive age generation, the young people will have to work to support them. Besides, the country will have to hire employees from other countries to support and maintain the country development.

What people do to overcome this issue?

To overcome these problems, nowadays working time regulations and welfare state policies have been reformed in most European countries with the aim of making markets more flexible and also to promote, among other issues, women’s employment in child-raising years. Those regulations are such as allowing the workers to choose between part time employment and full time employment, giving paid or unpaid parental leave for the employees, obligating states in the country to have day care, etc. Some activities are also regularly held by companies in order to reduce the employees’ stress—vacations, sport events, etc.

More options and simplicity are also offered for women, at cost of lower wage as the flexible jobs are usually lower paid jobs. Those lower paid jobs which are found to be attractive for women has regular hours, more comfortable conditions, little travel, and greater personal fulfillment.

Other view on Work-Life balance

Although more people start to consider the importance of work-life balance, putting effort to divide their time between working and enjoying their social life, there is also another point of view. Paula J. Caproni on her article Work/Life Balance: You Can’t Get There From Here, state that the effort of trying to balance work and life is not supposed to be done. Career and personal life should not be considered as two different things that leads to different directions. They are, on the other hand, complement each other.

While the tendency of the studies on work-life balance is to write about how to overcome the unbalance in those two aspects, Caproni thinks that those effort are useless as balance is a state that is impossible to be realized. Thus, trying to achieve balance is somehow leads to stress. It is better to just accept and make the best of the condition. Moreover, it is undeniable that ‘work’ that is usually to be blamed for causing less time to gather with children, is actually also supporting them. When we do well with our work and get a good career, we will be able provide better living and education for our children.

Work-life balance in Germany

The English expression ‘work–life balance’ is occasionally used in Germany, although German terms such as Balance in der Arbeits- und Lebenswelt, Vereinbarung von Arbeit und Familie, or the related term Flexi-Arbeiten, have gained wider recognition in the media and elsewhere. Also, a range of government policies aims to support both parental rights and family-friendly work schemes in Germany (Arthur, 2002).

In Germany, the root of the problem is the ageing population. Because of this, at the same time, Germany has to cope with the demand of work while needing to give more time for family, to encourage marriage, as this country keeps having low birthrate—which potentially leads to the lack of labor force potentials in the future.

Some of the regulations regarding work-life balance in Germany are for every state to provide child care places. There are a lot of child care facilities in Germany, even in the universities. It has really eased the mother, so they can still do any other activities such as working or studying.

Another regulation is the possibility to get part time or full time employment. Even though part time employees receive less benefit than the full time employees, it enables mothers to still get a job while still able to take care of their children. Employers can change from part time to full time employment when they have valid reasons such as parental duties, educations, etc., with acknowledgement of three months in advance. The employers can reject their request if it is proven to be detrimental to business.

Flexible working time has also become a trend in Germany. More and more companies choose to offer this flexibility to the employees. This flexi time arrangement has not only benefited the employees, but also the company since it is believed that satisfied employees are more productive at work. With this flexible working time, one can leave their workplace at 2 pm to pick up their daughter from school, and get back to work and stay longer to pay their missing working time. There is also working time account for compensating for periods of overtime with reduced working hours within a certain period, extending from a short period to over several years. This has been implemented in a lot of companies all over Germany at least since 90s.

For a family with a newborn, both the mother and the father are allowed to work part-time up to 30 hours per week, until the child is one year old. Fourteen weeks of paid maternity leave is also possible for the mother before and after the labor.

The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) designed a life index in several aspects. One of it is the work-life balance. OECD measures the work-life balance based on the time consumed for working paid or unpaid—as in domestic work—and personal care (leisure).Based on the study, people in Germany have comparatively good work-life balance. They spend less time working than average people in OECD. They also spend more leisure time (cleaning, cooking, caring) compared to other OECD countries. The number of people working long hours is also relatively small.

Work-life balance in Indonesia

Even though the awareness of work-life balance has not really arises in Indonesia, and regulations regarding this issue such as choices between part time and full time employment has not been made, a recent survey by Nielsen Indonesia reported that Indonesians are concerned about the fact that they spend too much time in their workplaces, and have less time for friends and family (Indonesians concerned about work-life balance: Survey, 2012). In the same article, it is found that after financial stability, Indonesians biggest concern regarding a job is about a happy balance between work and home.

The underlying conditions of the rise in work-life balance issue that has been caused by gender inequalities at work that have not generally been addressed Indonesia. One of the possible reasons is simply because there is no such low birthrate problem in Indonesia. Conversely, the high rate of population growth faced by Indonesian in the last few decades was the issue to be solved. At the moment, although the population growth declines every year in Indonesia, it is seen as a success in the government family planning program.

A working woman in Indonesia does not necessarily face a problem in taking care of her family and children, because hiring a full time domestic servant and babysitter is definitely affordable. However, handing the responsibility of taking care of our own children is often seen as weakening our bond with them. For women who are afraid of this consequence, they would face conflict between continue pursuing her career and taking care of her family.

Unfortunately, the opportunity to choose between part time and full time employment has not been much offered. Unlike in some other countries where part time-full time employment is deployed to give freedom for women to pursue her career and take care of her children and family at the same time, because of the traditional view on gender role that is still held by a lot of Indonesian family, a woman will just resign from her job anytime she faced difficulty in dividing her work and family time. Besides, in most of Indonesian family, the men are responsible to feed and fulfill the needs of their entire family, even when the women have their own income. Moreover, since it is easy to open a home business, if they need more flexibility, they would prefer to start their own business, even with a risk of unsteady income.

Comparison between work-life balance in Germany and Indonesia

Paid Vacation

In Indonesia, officially employees got paid vacation of 12 days off per year. These 12 days off is including collective leave during the Islamic religious holiday, usually for 3-4 days, and Christmas-New Year holiday (year-end holiday), which is usually for also 3 days. Hence, there is only around 6 days left for the employees to take vacation in days other than the collective leave. Yet, it is depending on the company. Some companies give more paid vacations for its employees.

In Germany, generally employees get 4 working weeks holiday per year, except for civil employees who receive a minimum of 30 work days off.

Public holiday

In Germany, public holidays vary between federal states, between 9 to 13 days per year. In Indonesia, yearly there is 14 public holidays.

Parental leave

In Germany, a mother can take 14 weeks of 100%paid maternity leave which can be extended up to 12 months (or 14 months for single mothers), and paid maximal of 65%, but no more than 1800 Euro/month. Paternity leave is also possible for the fathers, also up to 12 month (or 14 month for single father) with 65% salary paid, up to 1800 Euro/ month. Unpaid maternity and paternity leave is also possible until the child turns 3 year old.

In Indonesia, paid maternity leave lasts for 3 months and paternity leave is only for 2 days. For civil employees, the paid leaves only apply on the first to third children. Parents should take unpaid parental leave in the case of forth or more children. In case of miscarriage, the mother gets 1.5 months of paid leave, and the father 2 days of paid leave. Extending the parental leave with unpaid parental leave is still uncommon in Indonesia.

Paternity leave is very short in Indonesia because child caring is still viewed as mother’s responsibility and fathers are not usually taking much duty in here. While in Germany it is commonly seen that a father take his toddler strolling, the same scene is hardly seen in Indonesia.

NOP World Culture Score

NOP is a wholly-owned subsidiary of UK-based United Business Media. It publishes a series of world culture score index which is based on further analysis of the NOP World Roper Reports Worldwide survey. It includes in depth personal interviews with more than 30000 people age 13 to 65 across countries. The index compares the work-life ratio of self-reported work hours, and time spent socializing with friends and family among employed people.

The NOP World Culture Score has an optimum number of 100, which means the ratio between times spent for working is equal to the time spent for leisure. If time spent for working is more than the time spent for leisure, the index will be more than 100, and vice versa. Based on this world culture score, Indonesia has a good work life balance index, with time spent for leisure is slightly more than time spent for working, as most of Indonesian spend 42.9 hours per week at work and 42.2 hours per week for leisure. Thus, the work/life index for Indonesia is 98, relatively close to the ideal value 100.Germany people on the other hand, spend more time for working than for personal leisure. They spend around 37.1 hours per week for working and only 31.6 hours for leisure. Thus, the index for Germany is 113.

Conclusion

Work-Life balance is a hotter issue in Germany than in Indonesia although there is a tendency that this issue will keep raising in Indonesia. More regulations regarding work-life balance have been reformed in Germany than in Indonesia.

The underlying reasons why work-life balance is regarded as important are the negative birthrate, employees’ stress regarding work, and altered trend toward globalization and technology advancement. Germany and Indonesia has different problems regarding the demographic, tradition and employment, therefore the importance of work-life balance has been addressed differently in these two countries.

Bibliography

Arthur, L. (2002). Work–Life Balance: Towards an Agenda for Policy Learning Between Britain and Germany. London: Anglo-German Foundation.

Burke, P. (1995). The Invention of Leisure in Early Modern Europe. Past and Present no.146.

Caproni, P. J. (2004). Work/Life Balance: You Can’t Get There From Here. THE JOURNAL OF APPLIED BEHAVIORAL SCIENCE, Vol. 40 No. 2, 208-218.

Cuddy, A. J., & Fiske, S. T. (2004). When Professionals Become Mothers, Warmth Doesn’t Cut the Ice. Journal of Social Issues, Vol. 60, No. 4, 701-718.

Gregory, A., & Milne, S. (2009). Editorial: Work–life Balance: A Matter of Choice? Gender, Work and Organization.

happy wedding yayang poponiyem!

Alkisah, selamat nikah Qouniitah Fadhilah: sahabat sepanjang masa, lesbian masa muda, temen les tridaya jaman SD, temen sekelas sekaligus sesama anggota geng Tubbies Dancer, partner seni tari *karena ga ada yang mau pasangan sama kita saking nihilnya skill menari kita*, dan anggota QS *Qonita Sabrina* sepanjang SMP, temen sebangku, teman menggambar amoeba, teman seperjuangan tiap ada tes lari, dan teman fail waktu ikut ekskul ice skating selama kelas 1 dan 2 SMA, temen geng sampah, temen les bahasa inggris di EEP selama SMP dan SMA, yang entah gimana orang-orang ga bisa bedain kita saking selalu barengnya, padahal dari tinggi badan aja jelas bedanya :))), temen les SSC waktu kelas 3 SMA, temen sekampus yang himpunannya sebelahan, temen senasib sebagai anak pertukaran mahasiswa ke jepang setahun walaupun beda kota, temen skype sambil ngemil nasi atau cheesecake sehingga akhirnya jadi temen senasib ketika pulang dari jepang beberapa kilo lebih banyak dari saat berangkat *ehm*, temen bikin twitter a*e rai yang akhirnya ketauan sama ad* rai-nya GYAHAHAHAHAH, BFF, best partner in crime!

*nyomot foto fadel di instagram*

 

13 tahun++ lama ya. lebih dari separo umur kita kyaaa. aku jadi terharu. *lempar piring cantik*. *berkaca-kaca sambil baca posting berbalas blog kita jaman muda*: http://ageekinpink.tumblr.com/post/3562880902/dilemma, https://kepik.wordpress.com/2011/02/, http://ageekinpink.tumblr.com/post/3564289187/masa-masa-di-sekolah.

ini mau nulis juga terharu T.T

terharu ternyata kita udah selama itu bareng-bareng dan terharu akhirnya kita laku juga T.T

kita dulu aksel biar cepet lulus dan cepet kawin ya? T.T

mau nulis apa ya.

hmm, pertama-tama, terima kasih atas 13 tahun yang mengharukan ini. kita beneran grow up together ya. asik aja gitu ada temen ngobrol di segala cuaca dan musim. pas jaman smp kita ngobrolin azuki bunny, tsubasa, dan teori bahwa kalo-waktu-smp-kebanyakan-belajar-nanti-pas-sma-otaknya-abis *seriusan kamu ngomong gitu :))*. terus waktu sma ga boleh pacaran dan kata kamu, “kata ibu aku anak sma yang pacaran itu cuma ada di tv aja.” pas kuliah baru deh kita gamang-gamang dikit disuruh nyari pacar dan galau mau ngapain habis lulus kyaaaa. dan waktu lulus akhirnya disuruh nikah dan obrolan kita jadi kegalauan takut nikah huahaha. umur ga bisa bohong. abis ini ngobrolin anak kali, terus ngobrolin cucu, dan pas pensiun ngobrolin tatacara merajut dan berkebun :))

 

berjodoh exchange ke jepang

“photo box” tubbies dancer bikinan ocha waktu smp

ketemu di museum tralala *lupa namanya* di SG :3

tubbies dancer jualan jasa foto box *fotonya pake webcam* :))

ketemu nicky tirta di kereta :))

diwawancara dahsyat :))))

…dan masih banyak keabsurdan yang kita lalui bersama yang tidak terdokumentasikan, seperti ngasih pewangi di baju satpam eep dan video klip “dunia ini penuh kepalsuan” yang dibikin di rumah kamu pas hari sabtu jaman kelas 1 sma sehabis olah raga, yang backgroundnya pake taplak yang dipegangin fadel sambil ketawa-ketawa. 

terus, yang kedua, subhanallah alhamdulillah akhirnya kamu dan bang randy telah resmi menikah kyaaaa! dan mungkin kita harus berterima kasih sama salah satu dosen elektro sehingga akhirnya kamu dan bang randy bisa menikah. kenapa? karena ceritanya adalah dulu bang randy adalah asisten kuliah di kelas aku, yang saking jarangnya sang dosen mengajar, malah semacam dia yang jadi dosen. dan saking seringnya ngajar, akhirnya kami sekelas jadi tahu kalo bang randy habis exchange ke oita. setahun++ kemudian, kamu keterima exchange juga ke oita dan galau bingung mau nanya tentang oita kemana karena hampir ga ada orang indonesia di sana. dan akupun ingats, bahwa kakak asisten tempo hari pernah exchange ke oita juga. dan akhirnya kalianpun berkenalan.

qr

…dan akhirnya timbul percik-percik asmara kyaaa :))))

masa aku jadi sering skype sama dia.

na, dia orangnya gimana sih?

na, dia jago main piano loh.

na, sekarang aku udah kenal dong sama adeknya.

aku bingung deh aku sama dia gimana, ga pernah ketemu.

horeee, desember nanti dia mau pulang. akhirnya bisa ketemu biasanya cuma chatting sama skype aja.

na, kemaren aku kesel katanya dia ga jadi pulang desember. eh ternyata dia bohong ngerjain aku doang, jadinya pulang haha.

na, aku udah ketemu, dia udah ketemu keluarga aku, aku udah ketemu keluarga dia. cepet banget deh.

na, kayaknya aku ga bisa dateng ke nikahan kamu deh, aku lamaran tanggal segitu juga.

eh, jadinya bisa, lamarannya jadinya minggu.

aku nikah 16 agustus, udah pesen gedung.

kyaaaaa! gitu kan ya? :p

maaf ya ga bisa dateng pooon. beneran pengen padahaal tapi cuma libur seminggu *dan taunya kalo libur mepet juga sih*. hikss. kapan ya kita ketemu lagi T.T

semoga lancar-lancar pokoknya, rukun-rukun sama bang shia *kyaaa shia labeouf*, lancar kuliahnya jugaa. jangan lupakan akuuu dan take care di amerikaaa.

kiss kiss!

ditunggu qoni jr-nya :p

rejeki enggak kemana

cudah lama gak posting.. :@)

sebenernya udah lama pengen cerita tapi maap, sibuk.

*sibuk bikin masalah T.T*

cerita dikit deh, pokoknya waktu itu nyampe sini ternyata visanya salah lalalalala, dan ribut ini itu sampe seminggu dua minggu, sampe ngadep-ngadep imigrasi berdua dengan bapak CEO *gak enak hati, anak magang ngerepotin aja*, sampe sekretaris dari tokyo ikut ribet hyaaaa. dan ternyata bukan salah akoooohhhhh! salah petugas visanyaa hikss. untung aja, kalo engga lebih merasa bersalah deh.

kemudian setelah visa beres, saya dipanikkan dengan raibnya kartu security kantor GYAHAHAHAH. panik ga tau mau gimana, masa udah ngerepotin dengan pervisaan, ngilangin kartu kantor gyaaaah. cuma anak magang pulak. gyaaaaah :)) pokoknya galau. eh pas lagi galau dengan seksama, dapet email dari temen sebelah meja, “kartunya jatoh. saya simpen di meja.” aaaaaaaaak hidup kembali berwarna :)))

lanjooood, besoknya giliran ngilangin kartu transport HUAHAHAHAAHH. itu kartu transport buat 6 bulan. mayan cuy, mahal. galau juga kalo ilang gyahaha. udah sungkem sungkem ke akank, mohon ampun atas keteledoran istri cakepnya ini, dan udah menenangkan diri, eh ditilpun ama stasiun, katanya ada yang nemu. kyaaaaaaa! alhamdulillah! terus disuruh ngambil di kantor pulisi yodogawa *embuh dimana itu*. yaudahlah demi masa depan yang gemilang, saya pun dateng ke kantor pulisi. alhamdulillah ketemu, walaupun nyasar nyasar :))

kejadian-kejadian lainnya paling ya mecahin telor, ngegosongin masakan berkali kali, masak keasinan, gitu-gitu sih. standar.

lanjod.

jadi saya mau cerita pada hari ituuuh, lagi jalan ke festival osaka daigaku, double date gitu deh sama yang lagi pedekate haha. ehhh, pas lagi liat pertunjukan angklung, ada yang nepok dari belakang. CAPANIH. FENS AKOH EAAH! dan saya pun ngebalik.

aaaaaaaaak

AAAAAAAAAAAAAKKKKKK

ternyata anak kazakhstan temen di kanazawa duluuu >.< temen yang suka taiko bareng, yang suka nebeng beli daging halal ke orang-orang indonesia, temen gak minum kalo party di kaikan, temen yang ngasih boneka totoro dan surat pas mau pulang, yang sedih banget pas mau pisah, yang kirain ga bakal ketemu lagi karena udah beda belahan dunia. kyaaa!

lucu aja sih ceritanya dulu saya dan dia janjian jalan berdua ke osaka pas lagi spring break 2011. udah pesen hostel lalala, tiba tiba ada musibah tsunami fukushima ituuu huaa 😥 akhirnya berhubung saya disuruh balik dulu ke indonesia, dibatalkanlah trip itu. setelah kembali ke jepang habis spring break itu pun mau arrange ulang liburan ke osaka gak konkrit konkrit. eeeeeeeeh, sekarang malah ketemu di osaka. lucu aja sih :’)

rejeki emang ga kemanaa.

kalo kata akank sih, gitu. dulu akank seneng banget sama turbin-turbinan. jika disuruh menggambarkan diri, akank memilih menjadi turbin karenaa *lupak*. sayang disayang, pas lulus ‘terjebak’ di tempat kerja yang malah gak sesuai dengan prinsip hidupnya *nawon*, kerja di tempat yang bikin indonesia makin macet. pas mau pindah, entah gimana malah daptar-daptar perusahaan-perusahaan minyak-minyak gitu, dan walaupun akhirnya ga diambil jadinya tetep kerja di perusahaan yang berbau minyak. padahal kedemenan akank adalah renewable energy karena merupakan solusi masa depan *kalik*. terus daptar kerja di sini. perusahaan pompa dan akhirnya disuruh bikin TURBIN. kyaahhh!

jodoh ga kemanaaa. rejeki gak kemana.

katanja.

jangan perang

tempo hari, ketika lagi jaman-jamannya belajar bareng di perpus *yiasek, gaya bet udah beres ujiannya*, saya ngobrol dengan temen-temen saya.

saya (s): abis ujian terakhir mau ngapain?

temen mesir ™: langsung banget, setelah beres ujian jam 12, saya bakal terbang ke mesir jam 2 siang.

fyi, si temen ini gede di jerman, orang tuanya bisnis bea cukai atau apa gitu di frankfurt. cuma keluarga besarnya masih di mesir.

s: emang ga bahaya? gimana perangnya udah selesai belum?

tm: saudara-saudara saya udah terbiasa banget dengar ledakan bunuh diri. tiap hari di mana-mana ada aja.

s: mereka gapapa kan? saya selalu merinding kalo ngebayangin perang.

tm: untungnya gapapa. ledakan gitu udah normal banget, ga spesial. waktu itu kami telpon mereka, tanya kabar, katanya “ya, gitu lah. tadi ada ledakan di sini lalalalala.”

temen iran (ti): serem amat.

s: gimana ceritanya sih?

tm: ya politik sih. kubu yang berkuasa dan yang ingin menggulingkan.

s: sampe segitunya amat ya padahal cuma politik. itu gimana yang pemerintah ngevonis mati lima ratusan orang itu? jahat banget. gimana ceritanya sih?

tm: ya emang orang-orang itu salah. mereka ngebunuhin anak-anak kecil. gila mereka, anak kecil dijatuhkan dari lantai atas. bikin kerusuhan. terus ketika orang mereka ada yang ditangkap, mereka mendatangi penjara, dan membunuhi tentara-tentara yang jaga. ada dua puluhan orang! *aye lupaaa*

ti & s: astagaa

tm: kamu tau? tentara-tentara yang bertugas jaga tawanan itu kan kebanyakan orang-orang gak mampu. tentara dengan pangkat rendah. bukan mau mereka jaga tawanan, mereka cuma menjalankan tugas. tapi mereka dibunuhi gitu aja. kejam emang.

s: gak kebayang, orang tua mereka udah ngebesarin dari kecil, tiba-tiba anaknya dibunuh gitu aja. jadi karena itu ya vonis matinya?

tm: yaa hal-hal semacam itu. walaupun sebenernya ga tepat sih kalo ngevonis mati sampe lima ratus orang. soalnya pelakunya gak semuanya, cuma sebagian aja. yang lain ada yang baik-baik, ga terlibat pembunuhan-pembunuhan itu. ya semua orang ada yang baik ada yang engga. lagian ada yang bilang kadang kayak gitu suka ada penyusup yang pengen memprovokasi. tapi akhirnya keputusan jadi enggaknya mereka dihukum mati diserahkan ke pemuka agama sih.

ti: di negara saya juga ada. kamu tau, di negara saya sunni dan shia-nya slek. shia itu mayoritas, saya juga shia. tapi tetep aja saya ga ngerti kenapa ada yang bunuh-bunuhin sunni. seolah-olah nyawa ga ada harganya. dan selalu, kalo ada perang kayak gitu, tentara kroco yang jadi korbannya. orang perang udah ga mikir, tentara yang ga salah pun dibunuh.

ya Allah, jangan sampe ada perang lagi di seluruh dunia. heran eyke, kadang orang soksokan ngomong, “ya udaaah perang aja. seraaang! emang kita takut!” ya sono perang. tapi jangan sampe ngelibatin orang-orang inosen yeeee. jangan sampe ada korban jiwa selain yang emang pengen perang. berani jamin gak? hihhh!!

tm: di saat perang gini, kamu ga bisa percaya dengan sembarang orang. akhir-akhir ini sering ada modus pembunuhan baru. anak-anak kecil atau wanita suruhan mereka disuruh mendatangi penduduk-penduduk biasa sambil bilang, “tolong, saya tersesat. ini alamat saya, saya ga tau gimana harus kesana. bisa minta diantar?” kemudian sang korban akan membantu karena kasihan. ketika sang korban sampai di alamat tersebut, korban tersebut dibunuh.

s & ti: gilaaaa! tega banget!

tm: iya, dan itu sering banget terjadi. udah banyak banget korban dari modus itu. padahal orang-orang itu kan cuma berniat menolong. gila mereka, ga berperikemanusiaan! jadi sekarang kalo ada orang minta diantar, harus dibawa ke kantor polisi, biar polisinya yang mengantar.

polisi, tentara, emang kudu berani ya. huvt ciyan..

tm: tapi kadang media emang suka ngasal sih. saya inget desember kemarin pas liburan ke mesir, saya lagi jalan-jalan di square gitu. biasa aja, tenang, damai. ada yang demo tapi demo-demo kecil. paling sepuluh orang. itu juga tertib. eh, ternyata di media muncul berita kalo di tempat yg saya datengin itu, tepat saat itu, ada demo besar-besaran. kerusuhan. astagaa. orang saya di sana dan gak ada apa-apa kok. jangan terlalu percaya deh sama media.

ti: kalo di negara saya sebaliknya. banyak yang kelaparan, ga punya uang, tapi pemerintahnya selalu bikin berita bahwa negara kami adalah negara makmur, kaya, sejahtera. terus banding-bandingin, misalnya di eropa atau mana, ekonominya krisis, sementara di iran semua sejahtera. padahal yaa yang miskin banyak hahaha.

huaa. pokoknya alhamdulillah indonesia masih relatif aman ya. mudah-mudahan semua orang di dunia gak gampang perang. sabar sabar aja ya. aamiin.

jangan perang pokoknya.

belajarnya bareng ya?

alkisah, tadi saya abis ujian antenna. udah seneng aja judulnya “oral”. ah rupanya written juga, cuma tiap sesi tiga orang doang yang ujian, dengan tiga orang penguji. jadi satu-satu gitu. bisa nanya-nanya kalo pertanyaannya ga jelas. enaknya itu sih. walaupun kasian juga si propesor dan asisten asisten kudu bikin soal macem-macem karena biasanya tiap sesi soalnya beda *yaiyalah biar ga ada yang nanya ke yang sebelumnya*.

humm, ini pengalaman keempat saya ujian oral di sini. alhamdulillah bukan ujian oral yang karena tiga kali gak lulus ujian tulis haha, tapi emang ujian mata kuliah ini defaultnya oral. sebagai orang yang paling males latian soal, saya relatif seneng sih kalo ujiannya oral. iya sih effort belajarnya lebih gede karena kudu baca script ratusan halaman dengan detail karena bisa ditanya bagian manapun. belum lagi script kuliah-kuliah saya di sini isinya matrix-matrixan, integral-integralan, yang sebagai orang yang gak sepintar anak-anak jenius di kelas dengan paparan sistem pendidikan jerman sedari kecil, saya kesulitan juga pahamnya. kudu lamaaaa banget bacanya, bolak balik berminggu-minggu. kemudian lupa lagi, karena udah kelamaan dipelajarin, dan akhirnya ya kudu diulang lagi zzz. tapi enaknya ya gitu, ga usah ngitung integral-integralan dengan detail huahaha. seriusan. saya gak teliti banget deh. tadi aja itung-itungan 2*100 saya jawab 50. untung diingetin penguji. huvth. terus yaa lebih fair aja menurut saya. soalnya kan ada tuh yang suka contek-contekan pas ujian. sebagai orang yang nyontek-free sejak tahun 2005 saat ikut ESQ *gyaaahaha padahal dulu jaman s1 ngopi-ngopi tugas matlab jugak :p*, bete aja gitu, kita udah susah payah belajar tapi ada yang contek-contekan hzzzz. untung saya belom pernah nemu sih di sini. dan enaknya lagi, kalo ujian oral misalnya pas bagian yang kita lagi paham banget bisa sok-sokan nambahin informasi yang kita tau padahal ga nyambung-nyambung amat. huahaha. yaaa kan udah susah-susah belajar masa ga dipamerin ke propesor :))

hamfash.

nah, persiapan belajar tiga dari empat ujian oral ini saya lakukan barengan dengan salah seorang temen saya. yoi, begitu tau ada cewe di kelas langsung deh apa-apa bareng. langsung akrab gitu deh sesama cewe, saking bosennya liat di kelas, bahkan di kampus, bahkan di kota darmstadt sendiri, isinya cowoooooooo semua. sampe kata temen saya yg lagi phd di sini, itu anak-anak phd kalo ngajar di kelas suka nandain cewe-cewenya. ciyan. dan indahnya nemu cewe adalah potensi membangun network percewekan. maksotnyaaaaa, karena kenal sama satu cewe, dia kan punya temen cewe lain, nah terus dikenalin, nah terus kebetulan ambil kelas yang sama dengan si cewe baru, langsung deh bisa ditempelin buat belajar bareng. huahahaha. abis bete sih, pas semester satu ga ada temen cewe. ditawarin belajar bareng sih sama cowo-cowo india ama pakistan tapi masa iya di sarang penyamun gitu. gak anggun banget weeeee :p

terus ya, berhubung belajarnya bareng mulu sama si temen ini, pas ujian oral microwave sensor semester lalu (seruangan berdua, sebelahan tapi beda penguji), pertanyaannya ada beberapa yang sama kayaknya, dan jawaban kami sama-sama gitu. orang belajarnya bareng, gugling-gugling bareng karena slide kuliah terlalu absurd, baca skript bareng, akhirnya nilainya pun sama persis. lalalalalaaa. wajar kan ya hahahh.

dan ujian yang tadi, belajarnya bertiga, sama cewe lain yang ada di kelas *subhanallah networking cewe-cewe elektro*, dan ujiannya bertiga. pengujinya satu-satu sih, cuma pertanyaannya sama *kayaknya*. kertas lembar pertama dari 5 lembar *kayaknya* dibagikan dan kami disuruh ngerjain selama 10 menit. ada empat soal. saya bengong. dan seketika langsung ngerjain nomer 4 karena paling gampang. propesor ketawa.

propesor: hehe. kalian belajarnya bareng ya?

kite-kite *sambil ngerjain soal masing-masing*: iya.

propesor: hahaha, itu kalian ngerjainnya nomor yang sama semua.

kite-kite: *nyengir*

yaaa mudah-mudahan nilainya bagus semuaa aamiin 😀

betewe, tapi kayaknya cowo-cowo di dunia ini pinter-pinter ya. cewe-cewe di bidang perelektroan ga sesakti cowo-cowonya. propesor cewe di elektro sini cuma satu.

*ah alasan, saya aja belajarnya gak bener :))*

namun alkisah, ada temennya si temen, beberapa taun lalu kuliah di TUD juga, ambil elektro juga. dia ini cewe yang superpinter gitu. udah pernah ambil s1 di negaranya, iran, tapi ambilnya fisika. pas kesini dia ngulang dari s1 lagi, kemudian s2, lulusnya cepet dan gpa-nya 1.3. SAKIIIIITTTTTT! terus katanya sih pas dia lulus, propesor-propesor pada dateng dan ngasih selamat, dan konon juga penghargaan karena dia cewe pertama sepanjang sejarah elektro di TUD yang lulus cepet dengan gpa 1.3. seketika saya langsung terbayang-bayang lagunya bimbo: aisyaah adiiinda kitaa, yang sopan dan jelitaaa, indeks prestasi tertinggi sembilan rata rata, calon insinyur dan bintang di kampus lalalalala. macam gitu kali ya itu orang. bahkan dia ditawarin phd di segala lab tapi dia milih langsung kerja karena umurnya udah 30 taun. cewe susah katanya dapet kerja kalo udah ketuaan. huvth. betewe anak iran emang pinter-pinter deh.

gitu deh.

eh harusnya saya belajaaar gak ngeblog huahaha. masih satu ujian lagi sebelum akhirnya bebas internship selama enam bulan, sebelum akhirnya bebas tesis selama enam bulan, sebelum akhirnya lulus dan bebas kudu cari kerja atau phd, sebelum akhirnya bebas pensiun. huahahaha.

entar pensiun mau menimang cucu ah. tinggal di desa, miara bebek, ayam, kambing, kucing, sapi, kelinci, kuda, harimau, kudanil